PERANAN KEPALA DESA DALAM MEMBINA GOTONG ROYONG

PERANAN KEPALA DESA DALAM MEMBINA GOTONG ROYONG

 

A. Latar Belakang Masalah

            Pembangunan Nasional dapat diartikan sebagai proses perubahan yang terus menerus dari suatu keadaan tertentu ke keadaan yang lebih baik, mencakup semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Pembangunan Nasional bertujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur yang merata materil dan spiritual berdasarkan Pancasila.

            Pembangunan melihat manusia sebagai makhluk budaya, selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan nilai-nilai budaya yang diyakininya. Nilai budaya tersebut dipelihara dan dikembangkan serta diwariskan kepada generasi penerusnya tetapi ada juga yang tidak berkembang dan akhirnya punah. Salah satu budaya yang perlu diwariskan kepada generasi penerus yaitu budaya gotong royong. Kegiatan gotong royong merupakan salah satu nilai budaya bangsa sering dilakukan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, khususnya pada masyarakat pedesaan. Namun sayang dalam kenyataannya kegiatan gotong royong itu dewasa ini mulai ditinggalkan. Padahal kegiatan gotong royong merupakan salah satu ciri khas bangsa Indonesia yang besar sekali pengaruhnya terhadap pembangunan.

            Untuk menghindari punahnya nilai-nilai luhur budaya bangsa, dengan tegas ditetapkan dalam GBHN arah pembangunan bidang kebudayaan yang berbunyi :

Mengembangkan dan membina kebudayaan Nasional bangsa Indonesia yang bersumber dari warisan budaya leluhur, budaya Nasional, yang mengandung nilai-nilai Universal termasuk kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam rangka mendukung terpeliharanya kerukunan hidup dan membangun peradaban bangsa. ( GBHN, 1999:73 ).

            Kehidupan masyarakat pedesaan tidak terlepas dari hidup bergotong-royong, sistem kehidupannya berkelompok atas dasar sistem kekeluargaan. Aktivitas gotong-royong biasanya tidak hanya menyangkut lapangan bercocok tanam atau pertanian saja, tetapi juga menyangkut lapangan kehidupan sosial lainnya seperti dalam hal :

  1. Kematian, sakit, atau kecelakaan;
  2. Pekerjaan rumah tangga, misalnya memperbaiki atap rumah;
  3. Pesta-pesta, misalnya pada waktu mengawinkan anaknya; dan
  4. Mengerjakan pekerjaan yang berguna untuk kepentingan umum dalam masyarakat desa, seperti memperbaiki jalan dan jembatan.

Masyarakat desa melakukan kerja sama secara bergotong-royong, karena masyarakat desa sadar bahwa di dalam kehidupannya pada hakekatnya tidak terlepas dari saling ketergantungan antar sesamanya, sehingga masyarakat desa selalu berusaha untuk memelihara hubungan yang baik dengan sesamanya.

Sikap gotong-royong memiliki nilai-nilai luhur yang positif karena dapat memeratakan kepentingan bersama juga kepentingan individu itu sendiri. Sikap gotong-royong merupakan suatu sikap positif dalam mentalitas bangsa Indonesia, sehingga bisa dijadikan aspek penunjang dalam pembangunan. Kenyataan menunjukkan nilai budaya ini sudah mulai pudar dan mulai ditinggalkan. Hal ini disebabkan masyarakat Indonesia pada umumnya sudah mengalami banyak perubahan seiring dengan kemajuan zaman.

Sehubungan dengan itu peranan Kepala Desa sangat penting untuk membina sikap gotong royong yang saat ini mulai pudar. Kepala Desa sebagai

Sehubungan dengan itu penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul : ”Peranan Kepala Desa Dalam Membina Sikap Gotong Royong Masyarakat di Desa Cileles, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang.

 

 

B. Perumusan dan Pembatasan Masalah

            Berdasarkan orientasi di atas, maka penulis merumuskan masalah sehubungan dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu: Bagaimanakah gotong-royong berperan dalam pembangunan masyarakat Kp. Narongtong, Desa Cileles?

Agar pembahasan hasil penelitian lebih terarah, maka penulis membatasi masalahnya sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah rencana gotong-royong berperan dalam pembangunan masyarakat Kp. Narongtong, Desa Cileles?
  2. Bagaimanakah pelaksanaan gotong-royong berperan dalam pembangunan masyarakat Kp. Narongtong, Desa Cileles?
  3. Hambatan apakah yang ditemui ketika melaksanakan gotong-royong dalam pembangunan masyarakat Kp. Narongtong, Desa Cileles?
  4. Usaha apa yang dilakukan untuk mengatasi hambatan pelaksanaan gotong-royong dalam pembangunan masyarakat Kp. Narongtong, Desa Cileles?

 

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan Penelitian

            Adapun secara umum yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengungkapkan bagaimanakah peranan gotong-royong dalam pembangunan masyarakat desanya, dengan tujuan:

  1. Mengetahui gambaran yang jelas mengenai rencana gotong-royong berperan dalam pembangunan masyarakat Kp. Narongtong, Desa Cileles.
  2. Mengetahui pelaksanaan gotong-royong berperan dalam pembangunan masyarakat Kp. Narongtong, Desa Cileles.
  3. Mengetahui hambatan yang ditemui dalam gotong-royong berperan dalam pembangunan masyarakat Kp. Narongtong, Desa Cileles.
  4. Mengetahui usaha apa yang dilakukan untuk mengatasi hambatan pelaksanaan gotong-royong berperan dalam pembangunan masyarakat Kp. Narongtong, Desa Cileles.

 

2. Kegunaan Penelitian

a. Secara Teoritis

            Kegunaan penelitian ini untuk mengungkapkan dan menggambarkan bagaimanakah peranan gotong-royong dalam pembangunan masyarakat desa, sehingga hasil penelitian ini dapat memberikan masukan terhadap pengembangan nilai-nilai luhur budaya bangsa pada umumnya, khususnya nilai gotong-royong yang disinyalir cenderung ditinggalkan.

b. Secara Praktis

            Secara praktis hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai alat untuk lebih memotivasi pelaksanaan gotong-royong oleh masyarakat Kp. Narongtong, Desa Cileles, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang.

 

D. Kerangka Pemikiran

            Pembangunan masyarakat pedesaan tidak bisa dilepaskan dari keseluruhan proses pembangunan nasional, sebab pada kenyataannya masyarakat Indonesia sebagian besar tinggal di wilayah pedesaan. Oleh karena potensi desa perlu digali dan dimobilisasikan untuk pembangunan nasional, sesuai dengan yang tercantum dalam GBHN ( 1999:75 ) sebagai berikut:

            Mempercepat pembangunan pedesaan dalam rangka pemberdayaan masyarakat terutama petani dan nelayan melalui penyediaan prasarana, pembangunan sistem agrobisnis, industri kecil dan kerajinan, pengembangan kelembagaan, penguasaan teknologi dan pemanfaatan sumber daya alam.

            Dalam kehidupan masyarakat desa yang relatif sederhana dapat dilihat suatu hubungan antar sesama anggota masyarakat begitu intim, dengan ciri kekerabatan, persaudaraan dan gotong-royong yang masih kuat. Menurut Koentjaraningrat faktor yang mendasari kehidupan masyarakat desa adalah :

  1. Hubungan kekerabatan.
  2. Hubungan tinggal dekat.
  3. Prinsip tujuan khusus.
  4. Prinsip ikatan dari atas.

Hubungan kekerabatan diantara masyarakat desa terjalin bagaikan jaringan yang menguasai sendi-sendi kehidupan, sehingga didalam kehidupannya sehari-hari tidak terlepas dari prinsip hidup bergotong-royong. Prakarsa dan peran serta masyarakat desa dalam menerobos kehidupan sosial masyarakat, sangat diperlukan untuk meningkatkan pembangunan desa, dimana seluruh lapisan masyarakat ikut terlibat dalam proses pembangunan desanya.

Masyarakat desa selalu dikonotasikan dengan ciri tradisional, kuatnya ikatan dengan alam, eratnya ikatan kelompok, guyub rukun, gotong-royong, alon-alon waton kelakon, gremet-gremet asal selamet, paternalistis dan sebagainya.

 

E.Anggapan Dasar dan Hipotesis

1. Anggapan Dasar

            Anggapan dasar adalah sesuatu keyakinan dimana kebenarannya oleh penulis yang akan berfungsi sebagai hal yang akan dipakai untuk tempat berpijak bagi peneliti dalam melakukan penelitian. ( Suharsimi Arikunto, 1991:17 ).

            Berdasarkan pendapat tersebut di atas, maka penelitian ini bertitik tolak pada anggapan dasar sebagai berikut :

  1. Merumuskan nilai-nilai kebudayaan Indonesia, sehingga mampu memberikan rujukan system nilai terhadap totalitas perilaku kehidupan ekonomi, politik, hukum dan kegiatan kebudayaan dalam rangka pengembangan kebudayaan nasional dan peningkatan kualitas berbudaya masyarakat. ( GBHN, 1999:73 ).
  2. Pada hakekatnya bangsa Jepang juga dapat berhasil membangun dengan memelihara nilai-nilai gotong-royongnya, malahan dengan mengembangkan beberapa tema berfikir yang khusus dalam nilai budaya itu yang menyebabkan bahwa kapasitasnya untuk memelihara solidaritas dengan kelompok yang mutlak amat dipertinggi dan untuk menyelenggarakan aktivitas kelompok secara spontan. ( Koentjaraningrat, 1994:72 ).
  3. Manfaat gotong-royong itu antara lain meringankan beban, waktu dan biaya, lebih efektif, efisien, meningkatkan solidaritas dan rasa kekeluargaan dengan sesama, menambah kokohnya rasa persatuan dan mempertinggi ketahanan bersama. ( A. Kosasih Djahiri, 1997:114 ).

 

2. Hipotesis

            Hipotesis dalam suatu penelitian merupakan suatu dasar untuk mengenal permasalahan dalam objek yang akan diteliti. Suharsimi Arikunto ( 1991:32 ) menyatakan bahwa, hipotesis merupakan kesimpulan yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian sampai bukti kebenarannya melalui data yang terkumpul.

            Berdasarkan kutipan di atas maka penulis mengambil rumusan hipotesis sebagai berikut:

  1. Jika rencana gotong-royong pada masyarakat Kp. Narongtong, Desa Cileles dilaksanakan dengan baik, maka akan tercipta kehidupan masyarakat yang kondusif.
  2. Jika pelaksanaan gotong-royong pada masyarakat Kp. Narongtong, Desa cileles berjalan dengan baik, maka usaha dalam pembangunan masyarakat desa akan meningkat.
  3. Jika hambatan yang ditemui dalam gotong-royong masyarakat Kp. Narongtong, Desa Cileles dapat diatasi dengan baik, maka pembangunan masyarakat desa dapat tercapai.

 

F. Definisi Istilah

            Agar tidak terjadi salah penafsiran dan untuk memperoleh kesatuan arti dan pengertian dari judul penelitian ini, maka penulis memberikan penjelasan mengenai istilah-istilah yang digunakan dalam judul penelitian tersebut.

  1. Peranan merupakan aspek yang dinamis dari suatu kedudukan atau status. Merupakan suatu konsep tentang hal apa saja yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat ( Suparto, 1997:75 ).
  2. Kepala Desa adalah
  3. Gotong-royong dalam hal ini diartikan sebagai bentuk kerja sama yang spontan yang sudah melembaga yang mengandung unsur timbal balik yang sukarela antar warga desa dan antar warga desa dengan kepala/pemerintahan desa serta musyawarah desa, untuk memenuhi kebutuhan desa yang insidentil maupun kontinyu dalam rangka meningkatkan kesejahteraan baik materil maupun spirituil ( Soleman B. Taneko, 1994:118 ).
  4. Masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang telah cukup lama hidup bersama dan bekerja sama sehingga itu dapat diorganisasikan dirinya dan berfikir tentang dirinya sebagai satu kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu ( Harsojo, 1997;104 ).
  5. Desa ialah Suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat yang berkuasa mengadakan pemerintahan sendiri. ( Soetardjo Kartohadikusumo, 1994:13 ).

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka yang dimaksud dengan ”Peranan Kepala Desa” adalah peranan gotong-royong dalam hal rencana, pelaksanaan, hambatan dan usaha mengatasi hambatan gotong-royong terhadap meningkatkan pembangunan masyarakat desa, di Kp. Narongtong, Desa Cileles, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang.   

 

METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian

            Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode ( pendekatan ) deskriptif, yaitu suatu pendekatan yang mempelajari tentang suatu hal atau sesuatu permasalahan secara intensif mengenai latar belakang keadaan sekarang dan interaksi lingkungan suatu unit sosial, individu, kelompok, lembaga atau masyarakat guna diperoleh sesuatu pemahaman yang lebih mendalam mengenai permasalahan tersebut. Sebagaimana dikemukakan oleh Winarno Surakhmad ( 1990:139 ), bahwa :

            Metode deskriptif adalah menentukan dan menafsirkan data yang ada, dalam suatu hubungan, pandangan sikap, yang nampak pada suatu proses yang sedang berlangsung, pengaruh yang sedang bekerja, kelalaian yang sedang muncul, dan kecenderungan yang nampak.

 

            Dengan demikian bahwa metode deskriptif merupakan metode yang memusatkan perhatian pada masalah-masalah yang aktual dengan mengumpulkan data dan informasi yang lengkap dan terperinci, kemudian di analisis sehingga dapat dikemukakan cara pemecahannya.  

 

B. Populasi dan Sampel

1. Populasi

            Setiap kegiatan penelitian senantiasa akan selalu berhadapan dengan sumber data baik orang, benda, gejala maupun nilai tes. Istilah yang digunakan dalam penelitian disebut Populasi.

            Moh. Ali ( 1993:45 ) menjelaskan bahwa, populasi adalah seluruh subjek yang dijadikan objek penelitian. Sugiono ( 1999:53 ) menjelaskan bahwa, populasi bukan hanya orang tetapi juga benda-benda lain, populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada objek atau subjek yang dipelajari tetapi meliputi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki oleh suatu subjek atau objek.

            Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah penduduk usia dewasa yang berada di Kp. Narongtong, Desa Cileles, Kecamatan Jatinagor, Kabupaten Sumedang.

2. Sampel

            Sampel adalah sebagian dari populasi yang diteliti. S. Margono ( 2000:121 ) menjelaskan bahwa, sampel adalah sebagian dari populasi, sebagian contoh yang diambil dengan menggunakan cara-cara tertentu.

             

About these ads

5 Komentar

  1. salam kenal..
    langsung aja yah, gw mahasiswa fisip unpad..
    barusan googling soal desa cileles dan nemunya blog ini.. boleh ga gw minta data potensi desa cileles yang lengkap? makasihh :)

    • ada tapi harus dicari dulu

  2. good… tanks

    • sama2

  3. bagus,, izin share….


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.