Partisipasi tokoh masyarakat dalam membina kesadaran masyarakat terhadap hukum adat di kampung Naga

 Partisipasi tokoh masyarakat dalam membina kesadaran masyarakat terhadap hukum adat di kampung Naga

Dalam kehidupan masyarakat Kampung Naga, tokoh masyarakat menduduki posisi yang penting, oleh karena ia dianggap orang serba tahu dan mempunyai pengaruh yang besar terhadap masyarakat adat. Sehingga segala tindak-tanduknya merupakan pola aturan patut diteladani oleh masyarakat. Mengingat kedudukan yang penting itulah tokoh masyarakat senantiasa dituntut berpartisipasi dalam pembinaan kesadaran hukum masyarakat adat.

Partisipasi tokoh masyarakat sangat vital dalam membina kesadaran masyarakat adat kampung naga, hal ini dapat dijelaskan pada sistem kemasyarakatan kampung adat sebagai berikut:

a.       Sistem pelapisan sosial

Hidup masyarakat Kampung Naga berpedoman kepada adat istiadat, pantangan, norma-norma atau hukum adat yang berlaku semenjak para leluhur mereka hidup. Pedoman itu merupakan pengaturan dan pengontrolan hidup yang dipegang teguh oleh mereka dan berlaku dalam segala aspek kehidupan masyarakat Kampung Naga. Mereka tidak mempersoalkan sistem pelapisan sosial. Mereka beranggapan semua insan mempunyai kedudukan yang sama, cara berpakaian yang sama dan berbagai kepemimpinan benda yang sederhana pula.

Yang jelas bahwa kepemilikan benda-benda yang bernilai modern tersebut hanya menunjukkan adanya kenaikan/peningkatan kesejahteraan mereka. Satu hal yang perlu dihormati, bahwa tingkat ekonomi seseorang di dalam masyarakat Kampung Naga tidak pernah menjadi ukuran, dan karena kekayaan/kepemilikkan barang-barang mewah tidak menjadikan seseorang naik pada lapisan tertentu. Lapisan Sosial yang mendapatkan pengakuan tinggi dari masyarakat Kampung Naga tidak lain adalah bagaimana seseorang dalam kehidupan sehari-harinya dan kepatuhan pada adat seperti Kuncen, Lebe/Amil, Punduh/Tua Kampung, serta beberapa orang yang dipercaya untuk membantu mengurus masalah upacara dan adat istiadat. Inilah kesepakatan bersama dan ketentuan dari nenek moyang mereka yang selalu dipatuhinya.

Kuncen adalah kepala adat yang dipilih menurut adat dan berlaku secara turun-temurun, dan hanya boleh dijabat oleh seorang laki-laki. Ia merupakan sesepuh Kampung adat yang sangat dihormati oleh masyarakat, dan segala ucapannya yang berhubungan dengan adat istiadat selalu dipatuhinya. Menurut anggapan warga, kuncen adalah orang yang memiliki kelebihan, baik pengetahuan maupun pengalaman dalam masalah adat. Kuncen dibantu oleh seorang Lebe/Amil dan Punduh/Tua Kampung yang dipilih secara generatif atau keturunan. Tugas Punduh atau Tua Kampung mempunyai tugas sebagai penghubung antara kuncen dengan masyarakat.

Selain itu ada juga orang yang mendapat pengakuan tinggi dari masyarakat  yaitu pejabat pemerintah yang mengurus masalah kehidupan sehari-hari warga dan khususnya yang berhubungan dengan sistem pemerintahan desa. Mereka mendapat tempat yang tinggi di mata masyarakat dan dalam upacara adat mereka dipandang sebagai sesepuh kampung.

b.      Sistem Kepemimpinan

Kampung Naga sebagai salah satu Kampung Adat yang ada di jawa Barat memiliki dua bentuk sistem kepemimpinan, yaitu kepemimpinan formal dan kepemimpinan informal. Kepemimpinan Formal adalah kepemimpinan yang dipilih atas dasar pemilihan rakyat dan mendapat legitimasi dari pemerintah. Kepemimpinan formal di Kampung Naga dipandang oleh Ketua RW dan Ketua RT yang langsung berhubungan dengan sistem pemerintahan Sedangkan kepemimpinan informal adalah kepemimpinan yang ditentukan menurut ketentuan adat. Pemimpin adat adalah seseorang yang biasa disebut kuncen.  Sebagai orang yang dituakan, perkataan kuncen sangat didengar dan dipatuhi oleh masyarakat Kampung adat. Kuncen memiliki hak khusus dalam menerima tamu dan memberi petunjuk-petunjuk khusus dalam kehidupan adat istiadat Kampung Naga.

Peranan kuncen sebagai pemimpin informal di Kampung Naga terlihat konkrit ketika memberi nasihat, saran, dan pendapat serta bagaimana ia mengendalikan perilaku masyarakat Kampung Naga. Kepatuhan warga kepada kuncen karena ia dipandang sebagai pengemban amanat leluhur, hingga apa yang diucapkannya akan dipatuhi termasuk larangan untuk tidak membicarakan sejarah, asal usul Kampung Naga  dan tradisi pada hari-hari tertentu. Dalam pelaksanaan kehidupan sehari-harinya kedua bentuk sistem kepemimpinan di Kampung Adat Naga  khususnya dan masyarakat Desa Neglasari umumnya.

c.       Sistem Kekerabatan

Keluarga inti pada mayarakat Kampung Naga terdiri atas ayah, ibu, dan anak-anak yang belum menikah. Beberapa anak yang sudah menikah ada juga yang masih tinggal bersama orang tua mereka karena mereka ini belum siap untuk pindah atau belum memiliki rumah sendiri. Setiap individu yang hidup dalam suatu masyarakat, secara biologis menyebut kerabat kepada orang yang mempunyai hubungan darah, baik melalui ayah maupun ibu.

Masyarakat Kampung Naga yang diperluas lagi dengan warganya yang tinggal di luar wilayah Kampung Naga, masih terikat oleh adat Sa Nega. Mereka dengan kerabatnya yang secara biologis masih terikat pada adat Kampung Naga selalu melakukan kegiatan bersama dan ketentuan tersebut dipatuhi oleh seluruh warga Sa Naga. Pada hakekatnya, berbagai kegiatan dan upacara yang dilakukan mampu menyatukan mereka dalam satu ikatan kekeluargaan dan satu keturunan.

Berbicara masalah pembagian hak waris, terdapat dua kebiasaan. Sebagian masyarakat berpatokan pada hukum atau syariat agama islam, yaitu hak waris untuk laki-laki dan perempuan adalah dua berbanding satu. Akan tetapi sebagaian warga lainnya yang teguh mempertahankan adat peninggalan leluhurnya membagi warisan berdasarkan hukum adat yang tidak membedakan hak antara laki-laki dan perempuan

Tokoh masyarakat dalam rangka membimbing warga masyarakatnya sangat luwes dan rajin menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan adat yang dianut oleh masyarakat adat kampung naga tersebut, sehingga tergerak hati nuraninya warga kampung naga untuk mengikuti aturan-aturan yang ada di kampung naga sehingga menimbulkan peningkatkan kepercayaan dari masyarakat adat. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

a)      Pengetahuan

Tokoh masyarakat dalam membina warganya agar dapat mengikuti ketentuan hukum adat kampung naga, dengan jalan:

1.  Memberikan contoh yang baik kepada masyarakat tentang pelaksanaan adat nenek moyang yang dimiliki kampung naga.

2. Memberikan penjelasan kepada masyarakat adat kampung naga bagaimana cara melaksanakan ketentuan adat yang berlaku di kampung naga.

3. Menginformasikan kepada warga masyarakat adat kampung naga bila tidak melaksanakan ketentuan adat yang berlaku

b)      Pemahaman

Tokoh masyarakat kampung naga berusaha menyampaikan persepsi tentang adat-adat yang ada dan aturan yang berlaku di kampung naga, sehingga pemahaman warga masyarakat terhadap adat yang dianutnya seragam dan kuat.

Pemahaman masyarakat adat kampung Naga dapat dilihat dari kehidupan sehari-hari mereka masih tetap melaksanakan adat leluhurnya secara taat dan patuh, misalnya: Misalnya tata cara membangun dan bentuk rumah, letak, arah rumah, pakaian upacara, kesenian, dan sebagainya. Bentuk rumah dan letak rumah yang ada di kampung Naga semuanya sama.

Di samping itu dalam pelaksanaan upacara adat semua warga dapat mengikuti dengan hidmat, baik upacara menyepi/hari tabu, hajat sasih maupun upacara perkawinan sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh Ketua Adat.

c) Ketaatan

Ketaatan warga kampung Naga terhadap hukum adat sangat kuat, hal ini dapat dilihat dari pelaksanaan kehidupan sehari-hari seperti tabu, pantangan atau pamali bagi masyarakat Kampung Naga masih dilaksanakan dengan patuh khususnya dalam kehidupan sehari-hari, terutama yang berkenaan dengan aktivitas kehidupannya, pantangan atau pamali merupakan ketentuan hukum yang tidak tertulis yang mereka junjung tinggi dan dipatuhi oleh setiap orang. Misalnya tata cara membangun dan bentuk rumah, letak, arah rumah, pakaian upacara, kesenian, dan sebagainya.

Ketaatan warga ini diawali oleh Tokoh masyarakat dalam membina warganya dengan memberikan contoh yang baik dalam kehidupan sehari-hari, dan memberikan sanksi kepada warga masyarakat secara bertahap. Adapun sanksi yang ada pada masyarakat kampung naga adalah ada dua.

1)      Sanksi tertulis

Bila seseorang atau warga masyarakatnya yang melanggar salah satu adat (yang dilarang) yang ada di kampung naga misalnya: upacara menyepi/hari tabu, upacara perkawinan,upacara hajat sasih, maka tindakan yang dilakukan oleh Ketua Adat, pertama dengan cara menegurnya, kedua dengan cara memberikan surat yang isinya menyuruh keluar/pindah dari kampung naga untuk selama-lamanya dan sampai kapan pun tidak bisa mengikuti upacara adat kampung  naga.

2)      Sanksi tak tertulis

Ada beberapa sanksi yang tak tertulis yang berlaku di kampung naga antara lain:

Amanat. Amanat artinya pesan yang disampaikan dari leluhurnya/nenek moyangnya kepada seseorang yang dipercaya. Ajaran-ajarannya agar dilaksanakan sesuai dengan aturan yang berlaku di adat kampung naga.

Wasiat. Wasiat artinya pesan yang diberikan dari leluhurnya kepada seseorang yang dipercaya baik berupa barang atau mantra-mantra agar dilestarikan.

Akibat. Akibat artinya sesuatu yang terjadi yang disebabkan oleh suatu kejadian atau masalah imbalan dari suatu perbuatan yang dilarang.

Dari penjelasan-penjelasan tersebut di atas hukum adat merupakan salah satu aturan hukum yang tumbuh dan berkembang pada masyarakat dan selalu dilaksanakan dalam pergaulan kehidupannya. Mengingat pentingya hukum adat tersebut bagi kehidupan masyarakat, maka aturan hukum tersebut selalu dipertahankan dan dijunjung tinggi serta dilaksanakan secara turun temurun dari generasi ke genarasi seperti pada masyarakat adat kampung  naga.

Peran serta tokoh-tokoh masyarakat Kampung Naga seperti telah dijelaskan di atas tidak dilakukan secara insidental atau temporer, tetapi benar-benar dilakukan secara kontinyu dan khusus, sehingga pembinaan kesadaran hukum terarah dan berencana.

Berdasarkan penjelasan tersebut di atas bila dihubungkan dengan teori menurut Abdillah Hanafi (1987:113-114) tokoh masyarakat memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1.      ”memiliki hubungan sosial lebih luas daripada para pengikutnya

2.      memiliki keahlian atau pengetahuan tertentu melebihi orang kebanyakan, terutama pengikutnya.

3.      tidak menyimpan pengetahuan dan keahliannya itu untuk dirinya sendiri, melainkan berusaha untuk menyebarkan kepada orang lain”.

 

Tokoh masyarakat kampung naga memiliki hubungan sosial lebih luas daripada masyarakatnya, hal ini dapat dilihat dari pengetahuan, pemahaman dan ketaatan tokoh masyarakat adat terhadap hukum adat yang berlaku di kampung naga, mereka diyakini oleh masyarakat setempat tokoh masyarakat khususnya Pemimpin adat adalah seseorang yang biasa disebut kuncen,sebagai orang yang dituakan, perkataan kuncen sangat didengar dan dipatuhi oleh masyarakat Kampung adat. Kuncen memiliki hak khusus dalam menerima tamu dan memberi petunjuk-petunjuk khusus dalam kehidupan adat istiadat Kampung Naga.

Peranan kuncen sebagai pemimpin informal di Kampung Naga terlihat konkrit ketika memberi nasihat, saran, dan pendapat serta bagaimana ia mengendalikan perilaku masyarakat Kampung Naga. Kepatuhan warga kepada kuncen karena ia dipandang sebagai pengemban amanat leluhur, hingga apa yang diucapkannya akan dipatuhi termasuk larangan untuk tidak membicarakan sejarah, asal usul Kampung Naga  dan tradisi pada hari-hari tertentu.

Dari penjelasan tentang tokoh masyarakat adat dan penjelasan teori tersebut dapat disimpulkan bahwa tokoh masyarakat adat kampung Naga telah sesuai dengan kriteria teori yaitu, memiliki keahlian atau pengetahuan tertentu melebihi orang kebanyakan, terutama pengikutnya, tidak menyimpan pengetahuan dan keahliannya itu untuk dirinya sendiri, melainkan berusaha untuk menyebarkan kepada orang lain, sehingga partisipasi tokoh masyarakat dalam membina kesadaran masyarakat terhadap hukum adat di kampung Naga dapat dilakukan dengan baik, hal ini dapat dilihat dari keberlangsungan hukum adat yang masih berlaku sampai saat ini.

 

2.      Hambatan-hambatan yang dihadapi tokoh masyarakat dalam membina kesadaran masyarakat terhadap hukum adat di kampung Naga

Di dalam mencapai setiap tujuan tak terlepas dari adanya hambatan-hambatan, sehingga dengan adanya hambatan-hambatan tersebut seringkali mengakibatkan adanya kegagalan. Hambatan-hambatan tersebut, dapat disebabkan oleh berbagai faktor, apakah itu dari rencana yang telah dirumuskan, dari pelaku pelaksana atau dari obyek yang menjadi sasaran dari tujuan tersebut. Demikian pula pada masyarakat adat kampung naga kesulitan yang dihadapi oleh tokoh-tokoh masyarakat adat tersebut ternyata datangnya dari pihak masyarakat sendiri dengan adanya gejala masyarakat yang menuju kepada kehidupan kota, dimana sifat rasa kekeluargaannya semakin memudar dan tumbuhnya sifat individualistis dan konsumerisme.

Hal tersebut sesuai dengan yang dijelaskan oleh Koentjaraningrat (1983 :45) tentang beberapa sifat masyarakat yang dapat menghambat kegiatan tokoh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas kemasyarkatan, sebagai berikut :

”1. Sifat dan mentalitas yang meremehkan mutu.

2. Sifat dan mentalitas yang suka menerobos.

3. Sifat dan mentalitas yang tidak percaya pada diri sendiri.

3.      Sifat dan mentalitas yang tidak berdisiplin murni.

4.      Sifat dan mentalitas yang suka mengabaikan tanggung jawab.

 

Bila dikaitkan dengan terori tersebut masyarakat adat kampung naga yang menginginkan kehidupan yang lebih baik dengan berkehidupan seperti orang kota atau modern, memiliki sifat dan mentalitas yang tidak percaya pada diri sendiri.

Hal-hal tersebut merupakan tantangan bagi tokoh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas kemasyarakatan, maka agar dapat dicapai usaha-usaha yang efektip diharapkana tokoh masyarakat dapat mengatasi segala hambatan-hambatan tersebut dengan cara: tokoh adat harus memberikan pengertian dengan jalan musyawarah warga, memberikan pengertian kepada masyarakat tersebut tentang keberlangsungan hukum adat kampung Naga, bila tidak juga dapat diberikan pengertian, terpaksa orang tersebut harus keluar dari kampung naga untuk menjaga keutuhan hukum adat yang dianutnya.

 

  1. Usaha-usaha yang dilakukan oleh tokoh masyarakat dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap hukum adat di kampung Naga

Setiap peraturan yang berlaku bagi masyarakat, baru akan dapat ditaati dan dilaksanakan oleh masyarakat adat, apabila peraturan tersebut benar-benar diketahui, dipahami dan dihayati oleh masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu agar setiap peraturan dapat diketahui dan dilaksanakan oleh masyarakat, maka perlu adanya penerangan dan penyuluhan hukum dari tokoh-tokoh masyarakat.

Penerangan hukum terhadap masyarakat adat perlu dilakukan secara koordinatif dan terpadu oleh tokoh-tokoh masyarakat dalam hal ini dilakukan oleh Ketua Adat, Wakil Ketua Adat dan Punduh. Hal ini dapat dilihat dari setiap pelaksanaan keseharian di masyarakat dan upacara adat yang dilakukan oleh Tokoh masyarakat adat setiap waktu yang bertepatan dengan kegiatan adat kampung naga seperti Menyepi/hari tabu, Upacara Hajat Sasih, dan Upaca Perkawinan, selalu melaksanakannya dengan penuh hidmat, terkadang warga masyarakat dari luar kampung naga pun banyak yang mengikuti.

Namun demikian walaupun sifat dari aturan hukum adat bersifat mengatur agar orang-orang di dalam masyarakat selau tunduk dan taat kepada hukum, sehingga terwujud kehidupan masyarakat yang rukun dan damai. Tetapi kadang-kadang masih ada orang yang melanggar ketentuan hukum adat tersebut. Pelanggaran terhadap ketentuan hukum oleh anggota masyarakat adat tersebut, berakibat merugikan orang lain atau kelestarian hukum itu sendiri. Demikian pula pada masyarakat kampung naga masih ada aja yang melanggar aturan adat.

Terhadap warga masyarakat yang melanggar hukum adat, tidak sekaligus masyarakat itu diberi hukuman yang berupa pengusiran dari kampung naga tetapi dilakukan secara bertahap dengan jalan memberikan nasehat terlebih dahulu, bila tidak juga jera maka masyarakat tersebut harus keluar dari kampung naga.

Tidak ada suatu perbuatan yang baik yang tidak akan mendatangkan hasil, seperti halnya dalam pembinaan kesadaran hukum masyarakat adat kampung naga. Walaupun tidak sepenuhnya hasil perbuatan itu akan tetap nampak ada. Demikian juga usaha-usaha tokoh masyarakat terhadap masyarakatnya, mendatangkan hasil yang baik, hal ini dapat dilihat dari kegiatan sehari-hari masyarakat adat kampung adat tergolong orang yang patuh dan taat pada aturan hukum yang diwariskan dari leluhurnya.

About these ads

11 Komentar

  1. hm….
    tx yc bwt tulisn’a,
    aQ jd kebantu nech,,

    btw,
    ttp nilus trzz yc,
    cp tw bsoq2 tugs aQ kebantu lge,
    hehehe..

    at last,
    thx y…

    salam cayoo……………………………………………………………………………………………………………..

    • Alhamdulillah kalau merasa terbantu dengan tulisan kyu, kalau mau pesen tulisan singkat jg boleh gratis kho…..

  2. Seperti anda, Saya sangat tertarik dengan adat istiadat kita, oleh karena itu saya membahas tentang budaya pernikahan adat yang ada di Indonesia, mohon masukan dan dukungannya ya makasih :)

    • CHAYO SEMANGAAAT

  3. terima kasih atas tulisannya…mohon izin beberapa informasi saya kutip.

    wassalam

    • dengan senang hati silahkan

  4. ..trims untuk tulisannya…sebuah pertanyaan yang lama ga kjawab trnyata baru bisa trjawab,,once more thanks very much..

    • sama2 semoga bermanfaat yah….

  5. minta referensix, bos

  6. qminta literaturx, ya,,,, klo boleh

    • DAFTAR PUSTAKA

      Achmad Sanusi (1977). Pengantar Ilmu Hukum dan Pengantar Tata Hukum Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
      Bohar Suharto (1978). Pendidikan dan Pembangunan. Jakarta: PPL.
      Chitil Anwar (1997). Hukum Adat Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
      H.R. Otje Salman (2004). Beberapa Aspek Sosiologi Hukum. Bandung: Alumni.
      ——— (2002). Rekonsetualsasi Hukum Adat Kontemporer. Bandung: Alumni.
      Hilmah Hadikusuma (1990). Hukum Perjanjian Adat. Bandung: Citra Aditya Bakti.
      Kerlinger, Fred N. (2000). Asas-asas Penelitian Behavior. Yogyakarta: UGM. Press.
      Koentjaraningrat (1983). Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
      Lexy J. Moleong (2005). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
      M. Cholil Mansyur (Tanpa tahun). Sosiologi Masyarakat Kota dan Desa. Surabaya: Usaha Nasional.
      Mochtar Buchori (1994).. Pendidikan dalam Pembangunan. Jakarta: IKIP Muhamadiyah Press.
      Sudikno Mertokusumo (2002). Mengenal Hukum: Suatu Pengantar. Yoyakarta: Liberty.
      Sunarjati Hartono (1991). Dari Hukum Antar Golongan ke Hukum Antar Adat. Bandung: Citra Aditya Bakti.
      Soerjono Soekanto (2000). Hukum Adat Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
      Undang Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (www.Indonesia.go.id)
      (http://allbandung.com/)
      http:www.sundanet.com

      http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0504/31/0416.ht

      http://www.listserv.dfn.de/cgi-in/wa?A2=ind9902c&L=indonews&D=0&O=D&P=8748

      http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/2001/08/20/0042.html


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.